DKI Jakarta

pbwashliyah@gmail.com

IndonesianArabicThaiEnglishChinese (Simplified)

Khutbah Idul Fitri: Kepribadian Muslim Sesungguhnya Setelah Pendidikan Ramadhan

Saudara-saudaraku, Kaum Muslimin Wal Muslimat yang Dimuliakan Allah SWT.

Pertama-tama marilah memperbanyak syukur, kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan nikmat-Nya kepada kita semua. Baik itu berupa nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan dan nikmat hidup di permukaan bumi ini.

Kita semua yang hadir pada kesempatan ini, dapat berkumpul di tempat yang mulia ini, seraya mengumandangkan kalimat thoyyibah, kalimat takbir, tahmid dan tahlil, dan dapat menunaikan ibadah Salat Idul Fitri 1443
Hijriyah sebanyak dua rakaat yang dirangkai dengan khutbah Idul Fitri.

Solawat dan salam, marilah kita sampaikan keharibaan junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW. Nabi akhir zaman yang membawa kehidupan umat manusia, dari zaman tanpa aturan dan perundang-undangan, ke zaman yang berakhlaq dan beradab dengan petunjuk Alqur`anul Karim dan sunnah Rasulullah SAW.

Salawat dan salam kita sampaikan juga kepada keluarga Nabi Muhammad SAW, sahabat-sahabatnya, para tabiin-tabiin serta keluarga umat Islam sejak dahulu hingga yaumil akhir nanti, yang Insya Allah istiqomah dalam melaksanakan perintah dan ajaran Islam secara kaffah.

Kaum Muslimin Wal Muslimat, jamaah Salat Ied Rahimakumullah.

Pada pagi yang cerah ini, hari yang penuh berkah dan kebahagian, tentulah dirasakan oleh segenap umat Islam dunia, termasuk umat Islam yang ada di kampung kita ini, Kita semua gembira dan bahagia, karena kita telah selesai menempa diri selama sebulan penuh pada bulan suci Ramadhan yang baru lalu.

Kegembiraan kita, tentulah dalam batas dan koridor sesuai syar`i. Idul Fitri dapat disambut dengan makna ukhrowi, saling maaf-maafan antara anak dengan orangtua, yang muda dengan yang tua, saling silaturahim dan saling kunjung antar sesama keluarga dan saudara seiman.

Bulan Ramadhan sudah berlalu. Bulan penuh ampunan telah meninggalkan kita. Kini Idul Fitri pun sudah tiba, dalam nuansa kesucian dan penuh ketaqwaan. Tidak ada yang bisa menjamin, bahwa kita akan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan tahun depan.

Banyak di antara rekan-rekan kita, seusia, bahkan jauh di bawah usia kita sekarang ini. Orang-orang terkasih dalam kehidupan kita, Ramadhan tahun lalu mereka masih bersama kita, puasa dan tarawih, tapi pada tahun ini, Ramadhan tahun ini, mereka tidak bersama kita lagi, karena mereka telah tiada. Lebih dahulu menghadap Ilahi Robb.

Mulai tadi malam, gema takbir, tahmid dan tahlil terdengar di mana-mana. Di masjid, di mushola, di surau, umat Islam bergembira menyambut hari kemenangan, Idul Fitri 1 Syawal 1443 Hijriyah.

Firman Allah SWT dalam surah Al Baqoroh 183:

Artinya: ‘Wahai orang-orang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagai mana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” [QS Al Baqoroh 183].

Perintah puasa ini ditujukan kepada orang-orang beriman. Karena itu, jika ada yang tidak puasa [secara syar`i], padahal ia menyatakan umat Islam, maka ia tidak termasuk orang-orang yang dipanggil oleh Allah. Orang beriman sudah barang tentu masuk golongan orang-orang Islam, umat Nabi Muhammad SAW yang muttaqin, taat dan patuh kepada Allah SWT.

Sebaliknya orang yang mengaku-aku Islam, tapi tidak mengerjakan perintah Allah, atau menjauhi seluruh larangan Allah, maka ia bukan umat Islam sesungguhnya. Tapi ia adalah orang-orang munafik, Islam KTP yang maunya hanya saat waktu nikah diurus secara Islam, dan bila meninggal dunia, keluarganya minta jenazahnya dimandikan, dikafankan, serta disalatkan secara Islam.

Sekarang ini banyak bertebaran, orang yang mengaku-aku Islam, tapi malah dia takut terhadap ajaran Islam-nya. Malah sebaliknya, dia yang menjelek-jelakkan agamanya sendiri demi kepentingan duniawi semata. Kelompok ini kita sebut kelompok perusak ajaran Islam dari dalam tubuh Islam itu sendiri. Padahal ajaran Islam itu mengajarkan kasih sayang, Rahmatan Lil`alamin.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa Ilaha Illah Wallahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Saudaraku Seiman Karena Allah.

Tujuan akhir ibadah puasa itu adalah La`al Laakum Tattaqun [agar kamu bertaqwa]. Sekarang mari kita menundukkan kepala, introspeksi diri, koreksi diri, apakah ibadah puasa kita selama sebulan penuh, di bulan Ramadhan lalu sudah benar, dan ibadah kita dapat diterima Allah SWT?

Ataukah ibadah puasa telah membekas pada kalbu kita, sikap dan kepribadian kita? Jawabnya, ada pada diri kita masing-masing, dan hanya Allah Yang Maha Tahu.

Kita sebagai manusia biasa, hanya bisa merasakan dampaknya pada perubahan sikap dan perilaku kita, selepas bulan Ramadhan. Selama sebulan, fisik dan rohani kita dididik Allah SWT melalui ibadah dan amalan puasa. Usai Ramadhan, apakah kita ini termasuk golongan yang berhasil dan menang dalam suatu pertarungan, apakah kita tidak mendapatkan apa-apa?

Kebiasaan baik selama Ramadhan, salat lima waktu, tarawih, sedeqah, membaca ayat-ayat suci Al Qur`an, dapat kita tingkatkan dan lanjutkan pada bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya? Itu sudah salah satu indikator, penilaian bahwa kita berhasil dan menang.

Tidak bergunjing. Tidak membuat status di facebook, Instagram, twitter atau media sosial lainnya, yang bersifat fitnah, menjelek-jelekkan orang, saling caci-maki. Tidak mengadu-domba, mencari-cari kesalahan orang lain, dengki, hasut, tidak mengkonsumsi/mengedarkan narkoba, mencuri, menipu. Jika semua maksiat ini mampu ditinggalkan, maka orang yang berpuasa itu mencapai keberhasilan dengan nilai memuaskan.

Seharusnya, yang merayakan Idul Fitri ini, yang gembira pada hari Lebaran ini, hanyalah orang-orang yang puasa Ramadhan. Tapi kenyataannya, orang yang tidak puasa, tidak salat, paling sibuk untuk merayakan hari kemenangan ini. Paling sibuk untuk menyambut Idul Fitri. Nauzubillah min dzalik…

Sebaiknya, setelah puasa ini, pada bulan Syawal ini, bulan peningkatan amal ibadah, terjadi suatu perubahan sikap dan perilaku pada diri kita masing-masing. Dahulunya, semua pekerjaan maksiat dilakukan, sekarang semua itu sudah ditinggalkan. Kini menjadi insanul kamil [manusia baik] terus berikhtiar akan lebih baik, akan lebih tawadhu` di hadapan Allah SWT.

Dengan demikian, puasa Ramadhan selama sebulan kemarin kita laksanakan, dengan penuh keimanan dan keikhlasan, telah berhasil membentuk kepribadian seorang hamba Allah sebagai mukmin sejati, berkepribadian yang sesungguhnya dalam kehidupan yang fitrah [suci]. Ibarat bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Pendidikan Ramadhan akan gagal, apabila usai bulan puasa, bulan suci penuh barokah, penyakit masyarakat akan kambuh kembali. Yang biasanya rajin salat, rajin puasa, rajin sedekah saat Ramadhan, begitu Ramadhan meninggal umat manusia, penyakit atau kebiasaan buruknya kembali muncul lagi.

Judi, narkoba, sabung ayam, pencurian, pelacuran, korupsi, tindak kriminal dan lain-lainnya, kembali merajalela. Bermacam penyakit masyarakat, bukannya berkurang, malah makin meluas dan dibuka terang-terangan.

Maka hal yang demikian, saudara-saudara ku seiman, akan membuat Allah murka, maka banyak orang yang berpuasa Ramadhan hanyalah mendapatkan haus dan lapar. Tidak mendapatkan ampunan dan ganjaran pahala seabnyak 700 kali lipat.

Ingat kita di Indonesia ini, hampir tiga tahun diuji Allah SWT dengan wabah penyakit, yang dinamakan Covid-19. Hampir semua sendiri kehidupan manusia, ekonomi, sosial dan kesehatan terdampak, bahkan Covid-19 telah merenggut nyawa jutaan jiwa secara nasional dan global.

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690 dan Syaikh Albani berkata, ”Hasan Shahih.”)

Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ’Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan berharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahil Hamd Jemaah Salat Idul Fitri Yang Dimuliakan Allah.

Amal ibadah yang kita kerjakan selama Ramadhan, harus kita pertahankan pada bulan-bulan berikutnya. Jangan berkurang sedikit pun. Frekuensinya ibadah dinaikkan, jangan sampai turun ke titik nol. Jika dosa kita menyangkut manusia, maka silaturahmi dan maaf- memaafkan adalah solusinya. Kata maaf harus terucap dari mulut kita dengan penuh ikhlas. Bukan sekadar basa-basi, tapi harus dengan sepenuh hati.

Firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 134:

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang menafkah [hartanya] baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang menahan amarahnya dan memaafkan [kesalahan] orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [QS Ali Imran 134].

Sebagai manusia biasa, manusia dhoif, [lemah], tentu tidak akan luput dari salah alfa dan dosa. Karena itu, kita sebagai umat Islam yang setiap tahun dibentuk dan dididik dengan ilmu-ilmu agama, maka dianjurkan untuk mohon maaf kepada sesama manusia, mohon ampunan kepada Allah SWT. Jadikanlah Idul Fitri ini sebagai lembaran suci dalam kehidupan dan penghidupan kita.

Kaum muslimin yang Dirahmati Allah SWT

Berbuat baik kepada orangtua [Birrul walidain], sungguh banyak caranya. Bisa dilakukan dengan ucapan, perbuatan, maupun dengan harta.

Berbuat baik dengan ucapan, bisa dengan menjaga tutur kata yang baik dan tidak menyakitkan, serta dengan intonasi kata yang lemah-lembut ketika berbicara kepadanya. Tidak berkata kasar atau membentak. Sedangkan berbuat baik dengan perbuatan, bisa dilakukan dengan membantu menyiapkan keperluan-keperluannya. Atau mengerjakan sebagian pekerjaannya. Dengan maksud untuk meringankan beban kerjanya, serta melaksanakan perintahnya, selama perintah itu tidak dalam bentuk maksiat, atau mensyirikkan Allah.

Saudaraku Seiman Karena Allah

Berbuat baik kepada kedua orangtua, tidak sebatas pada saat keduanya masih hidup. Bahkan, di saat keduanya sudah meninggal dunia pun, berbuat baik kepadanya masih bisa dilakukan.

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz ibnu Abdullah ibnu Baz rahimahullah, salah seorang ulama terkemuka di Arab Saudi, mengatakan, “Disyariatkan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk yang telah meninggal dunia, begitu pula bersedekah atas namanya dengan berbuat baik berupa memberikan bantuan kepada fakir miskin, (yaitu) seseorang mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan perbuatan tersebut dan kemudian berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan pahala dari sedekah tersebut untuk ayah dan ibunya atau selain keduanya, baik yang telah
meninggal dunia maupun yang masih hidup.

Sabda Rasulullah SAW: Artinya: “‘Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang berdoa untuknya.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya, termasuk dari perbuatan paling baik dalam berbakti kepada orang tua adalah seseorang berbuat baik kepada keluarga orang yang dicintai (teman) ayahnya.” (H.R. Muslim)

Apabila banyak masalah dalam hidup dan penghidupan kita. Bidang pekerjaan, bisnis, pendidikan, kehidupan rumahtangga, kehidupan anak-anak kita dan sebagainya, coba renungkan dan evaluasi diri, apakah ada dosa kita kepada kedua orangtua, apakah kita belum pernah mendapat ridho dari kedua orangtua kita? Bukankah Ridho orangtua akan menjadi ridho Allah kepada kita?

Artinya: “Ridho Allah tergantung kepada ridho orangtua dan kemarahan Allah tergantung kemarahan orangtua.”

Demikian khutbah Idul Fitri ini, saya sampaikan. Yang benar datang dari Allah, yang salah tentulah dari diri saya pribadi. Semoga khutbah ini menjadi koreksi untuk diri kita masing-masing, termasuk diri saya beserta
keluarga.

Khutbah Kedua:

Melalui mimbar ini, saya selaku khatib mengajak kita semua, untuk berdoa mohon ampunan dan keselamatan, dunia dan
akhirat, termasuk keselamatan dan kenyamanan kampung yang kita cintai ini hendaknya tetap terjaga, rukun, harmonis yang bermasyarakat agamis.

  • Allahumma Ya Allah, kami berkumpul di tempat ini untuk memenuhi panggilan-Mu, mengharap Ridho dan ampunan-Mu.
    Karenanya ya Allah, terimalah ibadah sholat kami, ibadah puasa Ramadhan kami, serta seluruh amal ibadah kami. Kami mohon ya Allah, seluruh ibadah kami mendapat Ridho dan ampunan-Mu.
  • Ya Allah ya Robb, ampunilah segala dosa-dosa kami, dosa ayah dan ibunda kami. Ya Allah, kami ini belum bisa berbakti kepada mereka di dunia ini. Jasa pengorbanan mereka sungguh banyak, sementara kami tidak bisa membahagiakan mereka. Ayah dan ibunda kami, tidak pernah menyusahkan kami. Sebaliknya bahwa kami yang membuat mereka susah, pikiran dan tenaga. Banyak perintahnya kami abaikan, banyak perintahkan kami lawan, ya Allah betapa berdosanya kami kepada orangtua kami ya Allah. Karena itu, ya Allah, jangan siksa orangtua kami di alam kubur. Lapangkan alam kuburnya dan sinari mereka dengan amal ibadahnya. Jauhkan mereka dari siksa kubur, jauhkan mereka dari siksa api neraka. Masukkan kedua orangtua kami ke dalam sorga-Mu. Pertemukan dan kumpulkan kami ya Allah dalam sorga-Mu. Jangan pisahkan kami dengan orangtua kami. Dengan anak-anak kami. Dengan istri dan suami kami. Sayangi ya Allah kedua orangtua kami, sebagai mana mereka menyayangi kami sejak kecil.
  • Ya Allah, ya Rohman ya Rohim. Kepada orangtua kami yang masih hidup. Berilah kesehatan, kekuatan dan keberkahan umur. Kepada saudara-saudara kami, yang seiman, sebangsa dan se tanah air, yang sekarang terbaring di rumah sakit atau pun di rumah, angkatkan lah penyakitnya. Sehatlah jasmani dan rohaninya.

Nasrumminallahi wa fathun qorib, wabassyiril mukminin, assalamu`alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Syamsir, Sekretaris Bidang Kader PB Al Washliyah & Mantan Wartawan Ibukota Jakarta

lihat lebih banyak lagi

BPRS Al Washliyah Medan Jual 500 ribu Saham Per Saham 10 Ribu Rupiah

MEDAN - Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Al Washliyah akan menjual saham sebanyak 500 ribu saham kepada kalangan internal dan ekternal. Penjualan saham tersebut...

Banyak yang Harus Dibenahi di Panti Asuhan Al Washliyah Pulo Brayan

MEDAN - Banyak hal yang harus dibenahi dalam Panti Asuhan Al Washliyah, termasuk dalam pembinaan terhadap anak panti. Hal ini dikemukakan Ketua Umum Pengurus...

Ketum PB Konsolidasi Dengan Pengurus Wilayah Al Washliyah Riau

PEKANBARU - Ketua Umum PB Al Washliyah, Dr.H.Masyhuril Khamis, SH,MM melakukan pertemuan konsolidasi organisasi dengan jajaran Pengurus Wilayah Al Washliyah Riau di Pekanbaru, Kamis...

Ketum PB Al Washliyah Rapat BPRS di Medan

KETUA Umum PB Al Washliyah, Dr.H.Masyhuril Khamis, SH,MM melakukan rapat dengan Komisaris Utama BPRS Al Washliyah dan semua unsur pelaksana BPRS Al Washliyah, di...