DKI Jakarta

pbwashliyah@gmail.com

IndonesianArabicThaiEnglishChinese (Simplified)

Karsidi Diningrat: Waspada Dengan Pesonanya Dunia

ALLAH Subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.” (QS. Al-Hadid, 57: 20).

Dunia adalah ladang dan jalan menuju akhirat. “Dunia ini adalah tempat berlalu, bukan tempat untuk tinggal. Dalam hal ini Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya.” (HR. Ibnu Majah).

Kita di dalamnya terbagi kepada dua kelompok: manusia yang menjual dirinya dan manusia yang membeli dirinya. Yang kelompok pertama menghinakan dirinya, sedang kelompok yang kedua membebaskan dirinya. Perumpamaan dunia adalah seperti ular. Lembut sentuhannya, namun racun mematikan rongganya. Yang suka kepadanya adalah orang bodoh, dan yang menghindar darinya adalah orang yang berakal.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Dunia ini cantik dan hijau. Sesungguhnya Allah menjadikan kamu khalifah dan Allah mengamati apa yang kamu lakukan, karena itu jauhilah godaan wanita dan dunia. Sesungguhnnya fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah godaan kaum wanita.” (HR. Ahmad).

Dalam hadis yang lain Beliau bersabda, “Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang yang berebut melahap isi mangkok. Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah (tidak berguna) dan kalian ditimpa penyakit wahan.” Mereka bertanya lagi, “Apa itu penyakit wahan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kecintaan yang sangat kepada dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).

Dalam hadis yang lain Beliau Saw. bersabda, “Dua perkara yang dibenci anak Adam yaitu: membenci mati, padahal mati lebih baik daripada fitnah, dan dia membenci sedikit harta benda, padahal sedikit harta benda meringankan hisab.” (HR. Ahmad melalui Mahmud ibnu Lubaid).

DUA HAL TIDAK DISUKAI MANUSIA

Ada dua hal yang paling tidak disukai oleh manusia, yaitu mati dan fakir, padahal kedua hal itu lebih baik baginya daripada hidup berkepanjangan, tetapi penuh dengan fitnah dan hisab yang berat, Semakin banyak harta yang dimilikinya, maka semakin berat pula hisab yang akan dialaminya di kemudian hari. Karena harta dunia itu yang halalnya adalah hisab, sedangkan yang haramnya adalah azab. Atau dengan kata lain, sekalipun harta yang dimiliki berasal dari usaha yang halal, maka ia tetap akan menjalani hisab, terlebih lagi yang dihasilkan dari usaha yang haram, maka hal itu merupakan azab bagi pemiliknya.

Juga Beliau dalam sabdanya yang lain, “Tiada seseorang pun yang berjalan di atas (jalan yang berair) melainkan kedua telapak kakinya basah. Seperti demikianlah halnya pemilik harta dunia, ia tidak akan selamat dari dosa-dosa.” (HR, Baihaki melalui Anas r.a.).

Ia tidak akan selamat dari dosa-dosa. Makna yang dimaksud ialah bahwa pemilik harta tidak dapat menyelamatkan diri dari dosa-dosa yang diakibatkan oleh harta yang dimilikinya karena sesungguhnya kesenangan dunia itu merupakan kesenangan yang memperdayakan.


Untuk menghindari diri kita dari tipu daya dunia, menjual diri kita ke dunia, kita yang telah dikuasai oleh dunia, maka kita harus membeli diri kita, artinya kita tidak dikuasai oleh dunia dan kita terbebas dari dikuasai dunia.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Dunia itu manis lagi hijau; barang siapa yang memperoleh harta dari usaha halalnya lalu ia membelanjakannya sesuai dengan hak-haknya, niscaya Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan niscaya Dia akan memasukannya ke dalam surga-Nya. Dan barang siapa memperoleh harta dari usaha yang haram lalu ia membelanjakannya bukan pada hak-haknya, niscaya Allah akan menjerumuskannya ke dalam tempat yang menghinakan (neraka). Dan banyak orang yang menangani harta Allah dan Rasul-Nya kelak di hari kiamat mendapat siksa neraka.” (HR. Baihaki melalui Ibnu Umar r.a.).

Orang yang memperoleh harta dari usaha yang halal, lalu menunaikan hak-hak yang ada pada hartanya, maka ia terbebas dari hisab dan mendapat pahala dari Allah, serta dimasukan ke dalam surga-Nya. Akan tetapi, barangsiapa yang memperoleh harta dari usaha yang haram (korupsi, suap menyuap, riba, rentenir, menipu, maling, membegal, dll) dan menafkahkannya bukan pada hak-haknya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.

Dan dalam hadis yang lain Beliau bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang tidak meninggalkan urusan akhiratnya demi urusan duniawinya, dan pula tidak meninggalkan perkara duniawinya demi perkara akhiratnya, dan tidak mau menjadi beban bagi orang lain.” (HR. al-Khathib melalui Anas r.a.).

Dalam sabda Beliau yang lain, “Sedikit memperoleh taufik (kesuksesan dalam beragama) adalah lebih baik daripada banyak akal (pandai). Pandai dalam masalah duniawi menyusahkan, sedangkan pandai dalam masalah agama membahagiakan.” (HR. Imam Ibnu ‘Asakir). Dan dalam hadis yang lain dinyatakan, “Tinggalkan keduniawian dan semua yang berkaitan dengannya.” (HR. Abu Na’im melalui Aisyah r.a.). Hadis ini menganjurkan agar berzuhud terhadap perkara duniawi, memerintahkan agar meninggalkan hal-hal yang durhaka, serta kembali kepada-Nya dengan bertobat.

“Barangsiapa zuhud di dunia maka Allah tetapkan hikmah di dalam hatinya, dan Allah gerakkan lidahnya dengannya.” Salah satu yang menandakan kita zuhud di dunia adalah kita bersikap qana’ah (merasa cukup) dan sederhana dalam hidup, dan senantiasa ingat dan memikirkan kematian. Zuhud bukanlah berarti mengasingkan diri dari masyarakat dan medan kehidupan. Karena, pengasingan diri berarti lari dari beban tanggungjawab yang telah Allah berikan. Bukanlah yang dimaksud dengan zuhud kita tidak memiliki sesuatu, melainkan yang dimaksud dengannya ialah kita tidak dimiliki sesuatu. “Zuhudlah terhadap dunia, maka Allah akan memperlihatkan cacatnya. “Barangsiapa zuhud di dunia maka ringan baginya segala musibah.” (HR. Asysyihab).

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. menjadikan kotoran yang keluar dari (perut) anak Adam sebagai perumpamaan buat dunia.” (HR. Baihaki). “Allah menjadikan kotoran (tahi) anak Adam sebagai perumpamaan duniawi.’ (HR. Ahmad).

Dalam hadis di atas disebutkan yang menganjurkan ber-zuhud dari duniawi, yang antara lain mengatakan bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia menjadikannya ber-zuhud terhadap duniawi. Pantaslah bila dikatakan demikian karena di dalam hadis ini Allah Swt. menyerupakannya dengan kotoran yang keluar dari perut manusia. Atau dengan kata lain, duniawi ini tidak ada harga bila dibandingkan dengan pahala akhirat yang kekal, dan bahwa dunia pasti fana dan lenyap. Sama halnya dengan kotoran yang dibuang oleh manusia dari perutnya, tiada seorang pun yang memikirkan tentangnya karena tiada harganya dan memang harus dibuang, bila tidak, maka akan menyebabkan penyakit bagi dirinya.

DUNIA HANYALAH UJIAN ORANG BERIMAN

Akan tetapi, sekalipun demikian dunia ini dijadikan tempat gemerlapan di mata orang-orang yang mengabdinya. Padahal kenyataannya dunia ini hanyalah semata-mata sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Dunia merupakan tempat tinggal bagi orang yang tidak mempunyai tempat tinggal dan merupakan harta bagi orang yang tidak mempunyai harta, dan hanya karena dunialah orang yang tidak berakal mengumpulkannya,: (HR. Ahmad melalui Aisyah r,a,).

Kehidupan di dunia ini adalah kehidupan sementara dan semua harta benda yang terdapat di dalamnya merupakan batu ujian bagi manusia. Orang yang berakal dan bijaksana tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, melainkan menjadikannya sebagai sarana untuk meraih pahala akhirat yang kekal lagi abadi, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya, “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu-palsu.” (QS. Al-Hadid: 20). Dan dalam firman-Nya yang lain dinyatakan, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Dunia (harta) adalah benda yang ada sekarang, orang yang bertaqwa dan orang yang durhaka sama-sama makan sebagian daripadanya. Sedangkan akhirat merupakan janji yang benar, di hari akhirat keputusan berada pada Raja Yang Maha Adil (Allah); Dia memenangkan perkara yang hak dan mengalahkan perkara yang batil. Karena itu jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia, karena sesungguhnya setiap ibu itu pasti diikuti oleh anaknya masing-masing.” (HR. Imam Muslim). Dalam hadis yang lain disebutkan. “Ya, Allah, tiada kehidupan (yang sesungguhnya) kecuali kehiduoan di akhirat.” (HR. Bukhari). Hadis Bukhari ini merupakan shadrul bait atau bagian pertama dari suatu bait yang diucapkan oleh Nabi Saw. sewaktu beliau sedang menggali khandaq (parit) untuk membentengi kota Madinah dari serangan bala tentara yang bersekutu. Lengkapnya berbunyi seperti berikut: “Ya Allah, tiada kehidupan kecuali kehidupan di akhirat, maka tolonglah kaum Anshar dan kaum Muhajirin.”

Perbendaharaan dunia itu adalah harta yang fana dan pasti lenyap. Orang yang taqwa dan durhaka semua dapat memakannya. Akan tetapi, pahala di akhirat merupakan janji yang benar yang akan diputuskan oleh Tuhan Yang Maha Adil lagi Maha Kuasa. Dia akan membenarkan perkara yang hak dan menyalahkan perkara yang batil, karena itu raihlah oleh kalian pahala akhirat dan janganlah kalian meraih pahala dunia. Pahala akhirat kekal, sedangkan pahala dunia pasti lenyap. Barang siapa yang mencari pahala akhirat, maka ia akan memperoleh kebahagiaan yang abadi; dan barang siapa yang mencari pahala dunia, maka yang diperolehnya hanyalah kesenangan sementara, lalu lenyap.

Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam, ia mengisahkan bahwasanya pada suatu ketika terdengar suara Abu Bakar sedang meminta minum, lalu diambilkanlah untuknya kantung dari kulit yang berisi air dan madu. Namun ketika didekati, ia menangis dan membuat orang-orang disekitarnya ikut menangis. Tidak lama kemudian ia terdiam, namun setelah itu ia menangis kembali, hingga orang-orang disana mengira mereka tidak mungkin menanyakan apa pun padanya. Setelah itu ternyata ia menyeka wajahnya dan berhenti menangis.

Mereka segera bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang membuatmu menangis seperti itu? ia menjawab, “Aku teringat ketika suatu kali aku sedang bersama Nabi, lalu tiba-tiba beliau mendorong sesuatu untuk menjauh darinya, seraya berkata, ‘Menjauhlah dariku, menjauhlah dariku.’ Namun aku tidak melihat siapa pun di sana. Maka aku tanyakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, aku melihatmu seperti mendorong sesuatu untuk menjauh darimu, tetapi aku tidak melihat siapa pun bersamamu.’ Beliau menjawab, ‘Aku sedang diperlihatkan dunia dengan segala isinya di hadapanku. Lalu aku katakan, menjauhlah dariku, lalu ia pun menjauh, namun ia berkata, Demi Allah, engkau memang bisa menjauhkan aku darimu, tetapi tidak dengan orang-orang setelahmu, mereka tidak bisa jauh dariku.’ Dan aku khawatir aku termasuk di antara orang-orang itu dan lebih dekat dengan dunia. Itulah yang membuatku tadi menangis.

Oleh karena itu, jika kita hendak meraih kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat maka kita jadilah orang yang qana’ah dalam hidup sehingga tidak terjerumus dengan rayuan dan gemerlapan serta pesonanya dunia. Dalam hal ini Rasul Saw. bersabda, “Dunia terkutuk dan terkutuk pula semua yang ada di dalamnya, kecuali dzikrullah (mengingat Allah) dan hal-hal yang berkaitan dengannya, serta orang yang alim atau orang yang belajar (ilmu agama).” (HR.Thabrani melalui Ibnu Mas’ud r.a.). Wallahu A’lam bish-shawab.

Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag

  • Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
  • Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah
  • Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.

lihat lebih banyak lagi

Suhu 48 Derajat, Jemaah Diimbau Tidak Lontar Jumroh Sebelum Pukul Empat Sore

MINA - Suhu mencapai 48 derajat celcius melanda di Mina, Arab Saudi pada hari Senin 17 Juni 2024/11 Zulhijjah 1445 H. Petugas Penyelenggara Ibadah...

Raja Doa Bersama Tokoh Washliyah Untuk Almarhum Wizdan Fauran Lubis

RAJA FANNY FATAHILLAH, SS, M.Si, putra Keetua Umum PB Al Washliyah, juga bakal calon Bupati Labuhan Batu, Sumatera Utara, bersama masyarakat, ulama, khalifah dan...

Pentingnya Pengembangan Profesionalisme Guru Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

DALAM era pendidikan modern yang dinamis dan terus berkembang, peran guru sebagai pendidik profesional menjadi semakin krusial. Guru tidak hanya bertindak sebagai penyampai informasi...

PP HIMMAH Adakan Rapat Bentuk Panitia Muktamar

JAKARTA -Pengurus Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH) menggelar rapat pembentukan Panitia Pelaksana Muktamar XI HIMMAH. Rapat tersebut dilaksanakan di Aula Lt...