DKI Jakarta

pbwashliyah@gmail.com

IndonesianArabicThaiEnglishChinese (Simplified)

Antara Ulama Akhirat dan Ulama Dunia

ALLAH Subhanahu Wata’ala telah berfirman dalam surat al-Mujadilah, 58: 11,: “Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan orang-orang berilmu pengetahuan beberapa tingkat.” Dalam surat al-Hajj, ayat 54, : “Dan orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepada-Nya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang beriman kepada jalan yang lurus.”

Ketahuilah, bahwa seorang alim yang beramal dengan ilmunya, dan yang diduga di sisi Allah dan Rasul-Nya sebagai ulama agama dan ulama akhirat, memiliki bukti dan ciri, yang dengannya kita bisa membedakan antaranya dengan alim yang mencampur-aduk, yang dianggap di sisi Allah dan Rasul-Nya sebagai ulama jual obat, mengikuti hawa nafsu dan lebih mengutamakan dunia daripada akhirat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Pada suatu hari Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya : “Kamu kini jelas atas petunjuk dari Robbmu, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan berjihad di jalan Allah. Kemudian muncul di kalangan kamu dua hal yang memabukkan, yaitu kemewahan hidup (lupa diri) dan kebodohan. Kamu beralih kesitu dan berjangkit di kalangan kamu cinta dunia. Kalau terjadi demikian kamu tidak akan lagi beramar makruf, nahi mungkar dan berjihad di jalan Allah. Di kala itu yang menegakkan Al Qur’an dan sunnah, baik dengan sembunyi maupun terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam. (HR. Al Hakim & Attirmidzi).

Ciri ulamà akhirat ialah, senantiasa merendahkan diri, takut, bimbang, khawatir terhadap murka Allah Swt, zuhud dari harta benda dunia, merasa cukup dengan yang sedikit, membelanjakan apa yang melebihi kebutuhannya, memberi nasihat kepada orang banyak, menyayangi dan berbelas kasih kepada mereka.

Menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat, suka berbuat kebajikan, membiasakan diri dengan amal ibadah, menganjurkan segala kebaikan, menyeru ke jalan yang benar, senantiasa berdiam diri, tenang, penyantun, berbudi pekerti mulia, berlapang dada, lemah lembut, pandai memikat hati kaum Muslimin.

Tidak sombong, tidak berbicara banyak, tidak tamak atas hak orang, tidak terlampau menitikberatkan perhatian kepada urusan dunia, tidak melebihkannya dari urusan akhirat, tidak menumpuk harta benda, tidak menahan hak orang lain, tidak kejam, tidak kasar.

Hasan Al-Bashri mengatakan, “Barangsiapa yang berlebihan mencintai dunia, maka akan hilang dari dirinya ketakutan akan kehidupan akhirat. Barangsiapa yang bertambah ilmunya, namun kemudian ia malah bertambah semangat untuk mencari dunia, maka tidak ada yang bertambah pada dirinya terhadap Allah kecuali kebencian, dan tidak bertambah dunianya kecuali semakin sulit untuk dijangkau.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia membuatnya memahami agama dan membuatnya ber-zuhud terhadap duniawi, lalu Dia memperlihatkan kepadanya aib-aib dirinya.” (HR. Baihaqi melalui Anas r.a.).

Bilamana Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya, niscaya Allah memberinya petunjuk untuk dapat memahami agama karena agama akan membawanya kepada kebaikan di dunia dan akhirat. Dan niscaya Allah menjadikannya sebagai orang yang ber-zuhud terhadap duniawi karena dunia itu pasti lenyap, sedangkan pahala amal saleh tetap kekal di sisi-Nya. Hal ini tidaklah hèran mengingat pemahaman agamanya yang mendalam sehingga harta duniawi menurut pandangannya tiada artinya dibandingkan dengan pahala ukhrawi. Bila Allah memberi rezeki yang banyak, ia sampai kepada tingkatan zahid, niscaya ia akan dapat melihat aib dan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya, lalu ia segera bertobat dan memperbaiki dirinya.

Imam Ghazali pernah berkata, “Salah satu tanda ulama akhirat adalah, tidak mencari dunia dengan ilmu yang dimilikinya. Derajat paling minim untuk seorang ulama adalah menyadari bagaimana hakikat dunia, betapa murah, buruk dan kotornya kehidupan dunia itu. Juga menyadari hakikat akhirat, betapa agung, kekal, dan nikmatnya kehidupan akhirat itu.

Ia tahu benar bahwa keduanya sangat bertentangan, seperti halnya dua wanita yang dimadu, apabila salah satu dari mereka disenangkan dengan dua lengan, apabila salah satunya lebih berat, maka lengan yang lain akan menjadi lebih ringan dan meninggi.

Atau seperti matahari yang berjalan dari Timur dan Barat, apabila sudah menjauh dari Timur, maka matahari itu akan lebih dekat ke arah Barat. Atau juga seperti dua gelas, yang satu penuh dengan air sedangkan yang satu lagi kosong, apabila air itu dituangkan ke gelas yang kosong, maka semakin terisi gelas yang kosong maka semakin berkurang pula gelas yang terisi.

Jika seseorang tidak menyadari betapa rendah dan tidak berartinya dunia itu, serta tidak berimbangnya kenikmatan yang ia rasakan di dunia dengan kenikmatan yang ia lepaskan di akhirat, maka orang tersebut sudah rusak daya pikirnya, karena dengan sedikit pengamatan dan percobaan saja pasti sudah akan mengarahkannya pada kesimpulan tersebut, bagaimana mungkin seseorang dapat dikatakan seorang ulama jika daya pikirnya sudah rusak?

Apabila seseorang tidak menyadari bagaimana jauhnya kontradiksi antara kehidupan dunia dengan akhirat, dan bahwa menggabungkan keduanya merupakan ketamakan yang tidak pada tempatnya, itu artinya ia termasuk orang yang dungu dengan syariat para Nabi. Bagaimana mungkin orang yang seperti itu dianggap sebagai seorang ulama?

Jika ada seseorang yang sudah menyadari semua itu, namun kehidupan akhirat itu tetap tidak mempengaruhi pemikirannya tentang dunia, berarti ia sudah menjadi tawanan setan, ia telah dikuasai oleh syahwatnya sendiri, dan ia telah dikalahkan oleh hawa nafsunya sendiri. Bagaimana mungkin orang dengan derajat yang rendah seperti ini dianggap masih termasuk dalam barisan para ulama.” Demikianlah uraian Imam Ghazali tentang ciri ulama akhirat.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Seorang alim apabila menghendaki dengan ilmunya keridhoan Allah maka dia akan ditakuti oleh segalanya, dan jika dia bermaksud untuk menumpuk harta maka dia akan takut dari segala sesuatu”. (HR. Adailami).

Dalam sabda Beliau Saw. yang lain dinyatakan, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia membukakan baginya kunci hatinya, dan Dia menjadikan di dalamnya keyakinan dan kejujuran. Dia menjadikan kalbunya selalu menyadari apa yang ia tempuh, dan Dia menjadikan kalbunya selamat, lisannya jujur, akhlaknya lurus, dan Dia menjadikan telinganya berpendengaran tajam, dan matanya berpenglihatan tajam.” (HR. asy-Syekh melalui Abu Dzarr r.a.).

Hadits ini mempunyai makna yang berkaitan dengan hadits di atas yang menyatakan bahwa apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia membuatnya memahami agama, ber-zuhud terhadap duniawi, dan Dia memperlihatkan kepadanya aib-aib dirinya. Dalam hadits ini dinyatakan bahwa bilamana Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Dia membukakan kunci hatinya, hingga yang bersangkutan dapat memahami agama dengan pengertian yang mendalam. Setelah itu di dalam kalbunya akan tertanam keyakinan yang mantap dan kepercayaan yang teguh sehingga ia dapat mengetahui bahwa hidupnya di dunia hanyalah sementara dan rumah di dunia ini tiada lain merupakan rumah cobaan, sedangkan kehidupan yang abadi adalah di akhirat. Oleh sebab itu, maka ia lebih memilih perkara ukhrawi daripada perkara duniawi.

Kemudian Allah menjadikannya selalu menyadari terhadap apa yang ia tempuh sehingga menyadari kesalahan dan kekeliruan yang dilakukannya, lalu segera diperbaikinya. Bilamana sudah sampai kepada tingkatan ini maka hatinya menjadi selamat (bersih) dan tidak dikeruhi oleh noda-noda dosa; lisannya jujur; akhlaknya lurus; telinganya mau mendengar petunjuk dan hidayah; dan pandangan matanya tajam terhadap hal-hal yang mengandung manfaat di dunia dan akhirat, lalu ia segera mengerjakannya, serta tajam terhadap hal-hal yang.mengandung mudarat (bahaya) di dunia dan akhirat, lalu ia segera meninggalkannya atau menjauhinya.

Dalam hadits yang senada Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila engkau menginginkan Allah mencintaimu, maka berzuhudlah terhadap masalah duniawi, dan apabila engkau menginginkan orang-orang lain mencintai dirimu, maka berikanlah kelebihan harta benda yang ada pada dirimu kepada mereka.” (HR. Al-Khathib melalui Rab’i ibnu Khirasy secara Mursal).

Ber-zuhud terhadap masalah duniawi merupakan hal yang dianjurkan. Pada hadits di atas disebutkan bahwa bila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia menjadikannya ber-zuhud terhadap duniawi. Apabila orang itu dikehendaki baik oleh Allah, berarti ia dikasihani-Nya. Mengingat hal tersebut, maka dalam hadits ini ditegaskan berzuhudlah terhadap masalah duniawi, niscaya Allah Swt. akan mencintaimu.

Apabila kita menginginkan agar disukai oleh orang-orang, maka hendaklah kita menginfakkan kelebihan dari harta kita untuk disedekahkan kepada mereka, niscaya kita akan disukai. Atau dengan kata lain, apabila kita menginginkan agar orang-orang menyukai kita, maka kita harus dermawan terhadap mereka dan tidak boleh kikir. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang dermawan itu dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dan jauh dari neraka, sedangkan orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Singkatnya, orang yang dermawan disukai oleh orang-orang, dan orang yang kikir akan dibenci.

Tidak suka menduga-duga, atau berselisih, atau bermusuh-musuhan, atau galak, tidak buruk akhlak, tidak sempit pandangan, tidak suka mengelirukan, atau menipu, atau membelit, tidak melebihkan orang kaya atas orang miskin, tidak selalu menghadap pemerintah.

Rasulullah Saw. bersabda, : “Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri”. (HR. Adailami).

Tidak berdiam diri terhadap perbuatan munkar jika berkuasa, tidak menginginkan pangkat, harta kekayaan dan kedudukan, bahkan ia senantiasa benci terhadap sifat-sifat itu, tidak melibatkan diri dalam suatu perkara, melainkan jika perlu dan darurat saja.

Jadi, sifat para ulama akhirat itu senantiasa menempati sifat-sifat yang dianjurkan oleh ilmu pengetahuan, dan ditunjukkan oleh akhlak yang terpuji dan amalan shaleh, seraya menjauhkan diri dari apa yang dilarang oleh ilmu pengetahuan seperti, akhlak yang tercela dan segala amalan yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya.

Nabi Saw. bersabda, : “Celaka atas umatku dari ulama yang buruk.” (HR. Al Hakim).

Sifat-sifat mulia yang disebutkan di atas, selayaknya harus menjadi pegangan sifat setiap mukmin, terlebih lagi atas orang-orang yang berilmu. Dalam hal ini Nabi Saw. bersabda, : “Keutamaan orang yang berilmu pengetahuan atas orang yang banyak ibadahnya, laksana keutamaanku atas serendah-rendah orang dari para sahabatku”. Dalam riwayat yang lain : “Laksana kelebihan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang”.

Demikian itu sangat dituntut dan diutamakan, karena ia merupakan petunjuk jalan yang dituruti dan pedoman yang menjadi panutan. Jika ia, tersesat, kehilangan pegangan dan melebihkan dunia atas akhirat, maka ia akan menerima dosanya dan dosa orang-orang yang mengikuti jejak langkahnya. Tetapi, jika ia berjalan lurus dan bertaqwa kepada Allah, niscaya ia akan menerima pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikuti jejak langkahnya pula.

Jika kita ingin selamat dunia, akhirat, maka kita harus mengikuti dan merujuk terhadap sifat-sifat yang mulia dari para ulama tersèbut. Wallahu A’lam bish-Shawabi.

Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag

  • Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
  • Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah.
  • Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.

lihat lebih banyak lagi

BPRS Al Washliyah Medan Jual 500 ribu Saham Per Saham 10 Ribu Rupiah

MEDAN - Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Al Washliyah akan menjual saham sebanyak 500 ribu saham kepada kalangan internal dan ekternal. Penjualan saham tersebut...

Banyak yang Harus Dibenahi di Panti Asuhan Al Washliyah Pulo Brayan

MEDAN - Banyak hal yang harus dibenahi dalam Panti Asuhan Al Washliyah, termasuk dalam pembinaan terhadap anak panti. Hal ini dikemukakan Ketua Umum Pengurus...

Ketum PB Konsolidasi Dengan Pengurus Wilayah Al Washliyah Riau

PEKANBARU - Ketua Umum PB Al Washliyah, Dr.H.Masyhuril Khamis, SH,MM melakukan pertemuan konsolidasi organisasi dengan jajaran Pengurus Wilayah Al Washliyah Riau di Pekanbaru, Kamis...

Ketum PB Al Washliyah Rapat BPRS di Medan

KETUA Umum PB Al Washliyah, Dr.H.Masyhuril Khamis, SH,MM melakukan rapat dengan Komisaris Utama BPRS Al Washliyah dan semua unsur pelaksana BPRS Al Washliyah, di...