DKI Jakarta

pbwashliyah@gmail.com

IndonesianArabicThaiEnglishChinese (Simplified)

LKSA Adakan Program `Ngaji Warisan Ulama Al Washliyah`

LEMBAGA Kajian Strategis Al Washliyah (LKSA) Pengurus Besar (PB) Al Jam’iyatul Washliyah kembali hadir demi memberikan pencerahan kepada keluarga besar Al Washliyah dengan menampilkan sebuah program yang diberi nama “Ngaji Warisan Ulama Al Washliyah”.

Tujuan dari program yang diadakan khusus pada bulan Ramadan 1443 hijriah ini adalah selain untuk semakin mengakrabkan warga Al Washliyah dengan biografi, karya dan gagasan para pendiri Al Washliyah terutama Ismail Banda, Abdurrahman Sjihab, M. Arsjad Th. Lubis dan Yusuf Ahmad Lubis, juga untuk menemukan dan kemudian mengaktualisasikan teladan dan kearifan yang mereka ajarkan selama ini.

Sejauh ini, kajian-kajian tentang biografi dan pemikiran mereka relatif jarang diadakan. Itulah mengapa kajian-kajian tentang warisan ulama Al Washliyah sangat penting dan mendesak diadakan.

Program “Ngaji Warisan Ulama Al Washliyah” mengangkat tema tentang gerakan, karya dan gagasan empat ulama yang turut mendirikan organisasi Al Washliyah, yakni Ismail Banda, Abdurrahman Sjihab, M. Arsjad Th. Lubis dan Yusuf Ahmad Lubis. Narasumber kegiatan ini berasal dari internal LKSA sendiri, yakni Dr. Ja’far, Dr. Ismed Batubara, Dr. Zaini Dahlan, dan Dr. Sakti Ritonga.

Kegiatan ini diadakan pada setiap hari Sabtu pukul 09.00 WIB. Sasaran dari program yang diadakan secara virtual ini adalah kalangan pelajar, mahasiswa, guru, dosen dan pengurus Al Washliyah di seluruh Indonesia. Program ini juga hendak mengungkap dan menganalisa gerakan dan pemikiran para pendiri Al Washliyah dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya, empat bidang yang menjadi fokus kerja LKSA saat ini.

Kegiatan perdana dari program ini diadakan pada hari Sabtu, 9 April 2022 dengan tema “Gerakan, Karya dan Gagasan Ismail Banda”. Narasumber kegiatan perdana ini adalah Dr. Ja’far yang tak lain adalah Ketua LKSA PB Al Washliyah periode 2021-2026 dan juga dosen Filsafat pada Pascasarjana IAIN Lhokseumawe, Aceh. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa, dosen dan pengurus Al Washliyah se Indonesia terutama dari Aceh, Sumatera Utara dan Jakarta. Kegiatan perdana ini menghasilkan lima kesimpulan.

Pertama, kajian khusus tentang biografi dan pemikiran Ismail Banda belum dilakukan, apalagi selama ini belum ada buku yang khusus mengungkap figur Ismail Banda. Padahal, keberadaan buku mengenai Ismail Banda dipandang penting terutama untuk memberikan inspirasi dan meningkatkan spirit keilmuan di kalangan pelajar dan mahasiswa Al Washliyah, termasuk menjadi bahan pertimbangan untuk menobatkan Ismail Banda sebagai pahlawan nasional.

Jasa dan kontribusi Ismail Banda bagi Republik Indonesia sangat besar sebagaimana diungkap oleh sejumlah tokoh nasional seperti Sutan Sjahrir, Abdul Haris Nasution, Abdul Kahar Muzakkir, M. Zein Hassan dan Abubakar Aceh. Inilah mengapa studi tentang Ismail Banda menjadi sedemikian penting, dan itu juga yang menjadi alasan LKSA kemudian menerbitkan buku yang berjudul “Biografi dan Karya Ismail Banda.”

Kedua, buku yang berjudul “Biografi dan Karya Ismail Banda” karya Dr. Ja’far, M.A. relatif berhasil mengungkap biografi (termasuk gerakan intelektual dan politik) dan karya-karya Ismail Banda. Penulisan buku ini memakan waktu yang cukup panjang mengingat keterbatasan sumber mengenai figur Ismail Banda. Buku ini ditulis dengan memanfaatkan buku dan artikel yang ditulis langsung oleh Ismail Banda dan juga buku dan artikel yang ditulis oleh teman-teman Ismail Banda dan para ahli.

Penggunaan sumber primer yakni karya-karya Ismail Banda itu sendiri menjadi kekuatan utama dari buku ini. Buku ini direncanakan akan direvisi dengan menambah bab khusus tentang pemikiran Ismail Banda. Sebagian bab dari buku ini bisa diakses secara online dalam Google Books.

Ketiga, Ismail Banda merupakan figur yang memiliki semangat keilmuan yang tinggi. Ini diakui misalnya oleh Abubakar Aceh (1957) yang mengatakan bahwa “walau ia (Ismail Banda) sibuk menghadapi soal-soal politik dan persuratkabaran, namun pelajarannya tidak pernah terganggu. Ia mempunyai otak yang baik.” Terbukti bahwa setelah tamat dari Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) pada tahun 1928, ia langsung diminta oleh para gurunya untuk menjadi guru bantu di MIT, dan kemudian belajar ke Masjidilharam dan Madrasah Shaulatiyah di Makkah, Saudi Arabia, dari tahun 1932 sampai tahun 1936.

Semangat keilmuannya yang tinggi membuat ia merasa belum puas menuntut ilmu agama, meskipun sudah beberapa tahun belajar di Makkah sebagai pusat intelektual dan spiritual dunia Islam kala itu, sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, dan kemudian berhasil meraih gelar B.A. (1940) dan M.A.(1942) dalam bidang filsafat dari kampus ternama di dunia Islam tersebut.

Ia juga mahir dalam bahasa Inggris, selain bahasa Arab tentunya, karena ia memperoleh ijazah dalam bidang Bahasa Inggris dari Cambridge University via British Institute Cairo (1944). Dari sini juga terlihat bahwa Ismail Banda memiliki minat terhadap dua disiplin ilmu utama dalam peradaban Islam, yakni filsafat (ulûm al-hikmah al-falsafiyyah) dan ilmu-ilmu syariah (al-‘ulûm al-naqliyyah al-wadh‘iyyah).

Keempat, Ismail Banda juga mewariskan karya-karya dalam bentuk buku dan artikel. Saat ini baru satu buku karya Ismail Banda yang sudah ditemukan, yakni buku yang berjudul “Pengakoean Mesir dan Politik Arab League”, diterbitkan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Yogyakarta tahun 1947. Buku ini memiliki nilai historis yang tinggi terutama karena mengungkap perjuangan para pelajar Indonesia termasuk Ismail Banda di Timur Tengah dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, artikel-artikelnya juga banyak diterbitkan oleh majalah Medan Islam dan juga Dewan Islam. Jumlah karyanya yang sudah ditemukan cukup banyak, dan Al Washliyah perlu menerbitkan kembali seluruh karya Ismail Banda agar bisa menjadi bacaan, sumber inspirasi, dan panduan etis bagi bagi penerus Al Washliyah hari ini dan masa mendatang.

Kelima, Ismail Banda telah menunjukkan dedikasinya yang tinggi terutama bagi persiapan dan perjuangan untuk merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Organisasi Al Washliyah yang ia dirikan bersama Abdurrahman Sjihab, M. Arsjad Th. Lubis dan Yusuf Ahmad Lubis sangat sukses mencerdaskan kehidupan bangsa sejak sebelum era kemerdekaan bahkan sampai saat ini. Keberhasilan lobi-lobi politik tingkat tinggi yang dilakukan Ismail Banda, M. Zein Hassan dan Fuad Fakhruddin terutama dalam Kongres Liga Arab dan Konferensi Arab Islam berhasil membuat para pemuka negara-negara Arab, terutama Mesir, mengakui kedaulatan dan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kedekatan dan lobinya dengan pihak Universitas al-Azhar berhasil membuat Dewan Fatwa di al-Azhar mengeluarkan fatwa bahwa orang Islam yang pergi haji melalui NICA itu hajinya tidak sah, dan fatwa ini berhasil mematahkan diplomasi politik Belanda di Timur Tengah. Pasca kemerdekaan, Ismail Banda yang merupakan politisi dari Partai Masjumi ini bekerja sebagai dosen dan terakhir pegawai Kementerian Luar Negeri, dan sampai akhir hidupnya diangkat sebagai Charge d’affaire Kedutaan Republik Indonesia di Kabul, Afghanistan.

Jasanya bagi bangsa dan negara diakui oleh Presiden Soekarno. Sutan Sjahrir menyebut bahwa Ismail Banda merupakan satu di antara tokoh yang memperkuat usaha Republik Indonesia di luar negeri di awal-awal kemerdekaan Indonesia, sedangkan Jenderal Abdul Haris Nasution menyatakan “Ismail Banda termasuk dalam “enam serangkai” yang merupakan para pelajar terkemuka di luar negeri yang turut memperjuangkan pengakuan Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia.”

Program “Ngaji Warisan Ulama Al Washliyah” ini mendapatkan sambutan dan apresiasi dari elit PB Al Washliyah. Ketua Hubungan Antar Lembaga PB Al Washliyah, Wizdan Fauran Lubis,S.E. mengungkap kegiatan LKSA ini sangat bermanfaat bagi warga Al Washliyah karena tidak banyak informasi yang terungkap mengenai kehidupan dan perjuangan para pendiri organisasi ini.

Dalam konteks ini, Wizdan Fauran Lubis menegaskan bahwa (1) Ismail Banda merupakan satu di antara banyak pendiri Al Washliyah yang layak diperjuangkan sebagai pahlawan nasional mengingat jasanya bagi perjuangan kemerdekaan di luar negeri; (2) Al Washliyah perlu menghimpun kembali seluruh karya Ismail Banda mengingat rekam jejaknya selama ini hampir sirna.

Sekretaris Jenderal PB Al Washliyah, Dr. Amran Arifin menyatakan bahwa kajian yang diadakan LKSA ini merupakan kajian menarik dan memiliki makna yang strategis bagi Al Washliyah. Kajian-kajian seperti ini harus terus digalakkan. Ke depan, LKSA sudah saatnya juga merespons persoalan-persoalan eksternal Al Washliyah terutama isu-isu aktual dan strategis yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia di era kontemporer.

Ketua Umum PB Al Washliyah, Dr.H. Masyhuril Khamis, saat menutup acara ini kembali mengapresiasi narasumber kegiatan LKSA kali ini yang dinilai “masih muda sekali tetapi produktifnya luar biasa,” seraya berharap bahwa riset-riset tentang figur para pendiri Al Washliyah terus dikembangkan oleh para peneliti lain di internal Al Washliyah. Beliau juga mengungkap bahwa tradisi menulis di kalangan Al Washliyah perlu dikembangkan, dan ini menjadi salah satu nasihat dari H.M. Ridwan Ibrahim Lubis (Ketua Umum PB Al Washliyah periode 1986-1997) yang pernah menyatakan bahwa jangan pernah lupa untuk terus menulis.

Saat ini, kata Ustaz Masyhuril Khamis, Al Washliyah memiliki banyak dai yang luar biasa dalam menyampaikan pesan-pesan agama secara lisan, akan tetapi sedikit sekali ditemukan dalam organisasi ini peneliti atau penulis yang mumpuni untuk menyampaikan informasi dan gagasan secara tertulis sesuai dengan kaidah akademik.

Beliau juga menyampaikan pesan bahwa “hidup kita ini yang dinilai adalah kontribusinya, bukan durasinya.” Durasi umur para pendiri Al Washliyah tidak terlalu panjang, tetapi kontribusinya luar biasa. Kader-kader muda Al Washliyah, menurut beliau, meskipun masih muda dari segi usia tetapi harus memberikan kontribusi yang besar bagi umat dan bangsa. Nashrun minallâh wa fathun qarîb, wa basysyiril mu’minîn.

Dr. Ja’far, M.A.

  • Ketua LKSA PB Al Washliyah dan Dosen Pascasarjana IAIN Lhokseumawe

lihat lebih banyak lagi

Suhu 48 Derajat, Jemaah Diimbau Tidak Lontar Jumroh Sebelum Pukul Empat Sore

MINA - Suhu mencapai 48 derajat celcius melanda di Mina, Arab Saudi pada hari Senin 17 Juni 2024/11 Zulhijjah 1445 H. Petugas Penyelenggara Ibadah...

Raja Doa Bersama Tokoh Washliyah Untuk Almarhum Wizdan Fauran Lubis

RAJA FANNY FATAHILLAH, SS, M.Si, putra Keetua Umum PB Al Washliyah, juga bakal calon Bupati Labuhan Batu, Sumatera Utara, bersama masyarakat, ulama, khalifah dan...

Pentingnya Pengembangan Profesionalisme Guru Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

DALAM era pendidikan modern yang dinamis dan terus berkembang, peran guru sebagai pendidik profesional menjadi semakin krusial. Guru tidak hanya bertindak sebagai penyampai informasi...

PP HIMMAH Adakan Rapat Bentuk Panitia Muktamar

JAKARTA -Pengurus Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH) menggelar rapat pembentukan Panitia Pelaksana Muktamar XI HIMMAH. Rapat tersebut dilaksanakan di Aula Lt...