DKI Jakarta

pbwashliyah@gmail.com

IndonesianArabicThaiEnglishChinese (Simplified)

Amal Kebaikan yang Disukai Allah SWT

SALAH satu karunia yang Allah Swt. limpahkan kepada kita adalah Dia menetapkan bagi kita amalan-amalan yang baik, atau amal kebaikan atau amalan-amalan sunah, yang akan menambah kebahagiaan dan kedekatan kita kepada-Nya. Betapa banyak amalan kebaikan yang dianjurkan ajaran Islam dalam berbagai kesempatan. Salah satu kelebihan ajaran Islam adalah dia memberikan tuntunan adab pada setiap tindakan. Perkara-perkara sunah bagi seseorang yang taat beragama tidak ubahnya seperti udara segar yang menghiasi pemandangan yang indah atau ratna mutu manikam.

Perlu diperhatikan, banyak sekali amalan kebaikan dalam Islam yang dianjurkan untuk dilakukan secara terus-menerus, berkesinambungan, berulang-ulang. Tujuan dari pengulangan itu adalah, –disamping untuk memperkokoh ketaatan manusia kepada Allah Swt,– untuk memindahkan nilai-nilai akhlak dan nilai-nilai adab Ilahi kepada alam bawah sadar manusia. Dengan demikian, nilai-nilai tersebut akan menjadi bagian dari wujud diri dan pemikiran kita, dan kita pun akan selalu istiqomah pada nilai-nilai tersebut.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam telah bersabda, “Amal yang paling disukai Allah adalah amal yang dilakukan terus-menerus sekalipun sedikit.” (HR. Syaikhan melalui Aisyah r.a.).

Amal kebaikan yang paling disukai Allah ialah yang dikerjakan secara rutin dan berkesinambungan, tanpa memandang besar kecilnya amal. Karena sesungguhnya Allah Swt. hanya memandang pada kesinambungannya, bukan kepada jenisnya; semakin kerap amal kebaikan dilakukan, maka semakin besar pula pahalanya, sekalipun jenisnya kecil. Demikian pula sebaliknya, apabila dosa kecil dilakukan secara terus menerus, maka dosanya akan membesar, dan lambat laun menjadi dosa besar.

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam masalah agama, karena sesungguhnya Allah Swt. telah menjadikan agama mudah. Karena itu amalkanlah agama semampu kalian; sesungguhnya Allah Swt. menyukai amal saleh yang dikerjakan secara terus menerus sekalipun ringan.” (HR. Abul Qasim).

Lafaz Ta’ammuq fid diin , makna asalnya ialah memperdalam agama, tetapi makna yang dimaksud ialah berlebih-lebihan dalam mengamalkan agama dan mencari batas maksimalnya. Bersikap demikian merupakan hal yang dilarang oleh agama karena Allah telah menjadikan agama itu mudah dan tidak sulit, maka janganlah mempersulitkan diri, kerjakanlah darinya hal-hal yang mampu kita kerjakan, yakni sebatas kemampuan kita. Sesungguhnya Allah lebih menyukai amal saleh yang dikerjakan secara terus menerus sekalipun ringan. Dalam hal ini Allah Swt. telah berfirman, “Maka bertaqwalah kalian (hai orang-orang yang beriman) kepada Allah menurut kesanggupan kalian.” (QS. At-Taghabun:16).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam telah bersabda, “Agama itu mudah, maka siapa yang mencoba-coba untuk mengalahkannya pasti agama dapat mengalahkannya.” (HR. Hurairah r.a.).

Tidak ada seorang pun yang mencoba berlebih-lebihan dalam agama, melainkan ia pasti kalah di tengah jalan. Karena pada dasarnya agama itu mudah, maka janganlah mempersulit diri dengan berlebih-lebihan dalam mengamalkannya hingga pada batas di luar kemampuannya.

Dalam hadits yang senada dinyatakan, “Sesungguhnya agama itu mudah, dan tiada seseorang pun yang mencoba-coba untuk memperketatkannya melainkan agama pasti dapat mengalahkannya. Maka luruskanlah diri kalian, dekatkanlah diri kalian, dan bergembiralah serta mintalah pertolongan dengan mengerjakan (salat sunat) di pagi hari dan sore hari serta sedikit waktu di akhir malam.” (HR. Bukhari).

Sesungguhnya agama Islam ini mudah karena tiada sekali-kali Allah menghendaki kesukaran dalam urusan agama kalian, melainkan kemudahan belaka. Barang siapa yang mencoba-coba untuk memperketat dirinya dengan peraturan agama, niscaya agama akan mengalahkannya. Atau dengan kata lain, niscaya ia tidak akan mampu mengerjakannya, mengingat hal tersebut, maka luruskanlah diri kalian dalam menjalankan agama semampu kalian, dekatkanlah diri kalian kepada Allah, bergembiralah kalian dengan pahala yang akan kalian terima di sisi-Nya. Dan mintalah pertolongan kepada Allah Swt. dalam menjalankan agama melalui salat sunat di pagi hari, sore hari, dan sedikit waktu di akhir malam. Makna yang dimaksud ialah sunat rawatib dan salatul lail.

Dalam hadits yang lain beliau Saw. bersabda, “Ambillah pekerjaan yang kalian mampu mengerjakannya, karena sesungguhnya Allah Swt. tidak akan bosan (untuk memberi pahala kepada kalian) sehingga kalian sendirilah yang bosan (mengerjakan perbuatan itu).” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Aisyah r.a.).

Sebaik-baik amal kebaikan ialah yang dikerjakan secara mudawamah (terus-menerus) sekalipun ringan, karena itu kerjakanlah amal kebaikan yang mampu kita kerjakan, dan janganlah kita mengerjakan perbuatan-perbuatan yang di luar kemampuan. Allah Swt. tidak segan-segan menerima amal baik kita, hingga kita sendiri yang segan mengerjakannya.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi, 18: 46)

Juga dalam hadits yang lainnya beliau SAW. telah bersabda, “Berjalan luruslah kalian, dekatkanlah diri kalian (kepada Allah), dan bergembiralah (dengan pahala-Nya). Ketauilah oleh kalian semua, bahwa amal perbuatan seseorang di antara kalian tidak dapat memasukkannya ke surga. Mereka (para sahabat) bertanya; “Juga termasuk engkau, wahai Rasulullah?” Rasul Saw. menjawab, “Ya, juga termasuk aku sendiri, kecuali bila Allah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepadaku. Dan sesungguhnya amal yang disukai oleh Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus sekalipun kecil?” (HR. Syaikhan dan Nasai).

Rajin-rajinlah beramal saleh, tetaplah pada jalan yang lurus, jangan menyimpang, dekatkanlah diri kita kepada Allah Swt., dan bergembiralah dengan pahala dari sisi-Nya. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa tiada seorang pun yang dimasukan ke dalam surga oleh amal perbuatannya, karena sesungguhnya surga itu merupakan kemurahan dari Allah buat hamba-hamba-Nya yang saleh, dan neraka merupakan bukti dari sifat Allah Yang Mahaadil. Mengingat hal tersebut maka berusahalah dengan beramal saleh terus menerus tanpa kenal lelah, yang terpenting dalam beramal saleh ialah yang dikerjakan secara terus menerus dan menurut batas kemampuan karena di dalam hadits terdahulu telah disebutkan bahwa tiada seorang pun yang berlebih-lebihan dalam mengerjakan agama ini, melainkan ia pasti dikalahkan olehnya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. sedikit pun tidak akan berbuat aniaya terhadap kebaikan orang mukmin, pahalanya diberikan sewaktu ia di dunia, dan di akhirat kelak ia pun akan mendapatkannya. Adapun orang kafir hanya mendapatkannya sewaktu ia di dunia saja, sedangkan di akhirat ia takkan mendapatkan apa-apa dari kebaikannya itu.” (HR. Ahmad melalui Anas r.a.).

Beruntunglah orang yang beriman karena pahala amal kebaikannya dibalas oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat tanpa dikurangi barang sedikit pun. Akan tetapi amal kebaikan orang kafir hanya di balas di dunia saja; di akhirat nanti tiada suatu kebaikan pun yang dimilikinya. Oleh karena itu, nikmat yang paling utama adalah nikmat iman dan islam. Kita harus bersyukur kepada Allah atas kedua nikmat tersebut.

Dalam suatu riwayat disebutkan, “Sesungguhnya Allah Swt. tidaklah melihat kepada bentuk-bentuk kalian, dan tidak kepada kedudukan kalian, serta tidak pula kepada harta benda kalian, akan tetapi Dia melihat kepada kalbu kalian dan amal perbuatan kalian.” (HR. Thabrani).

Hadits ini menafsirkan pengertian yang terkandung dalam firman-Nya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat, 49: 13).

Dalam hadits lain disebutkan, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh itu terdapat segumpal darah; apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ingatlah, hal itu adalah hati.” Dan dalam hadits lainnya disebutkan bahwa Rasul Saw. pernah bersabda seraya mengisyaratkan ke arah dadanya, “Taqwa itu terletak di sini.” Yang dimaksud ialah di dalam hati.

Dalam hadits yang senada disebutkan, “Sesungguhnya Allah Swt. tidak mau menerima amal (seseorang) kecuali amal perbuatan yang ikhlas karena-Ñya, dan diharapkan untuk mendapat pahala-Nya.” (HR. Nasa’i melalui Abu Umamah).

Syarat yang menentukan bagi diterimanya suatu amal kebaikan ialah ikhlas karena Allah dan mengharapkan pahala-Nya, bukan karena riya atau pamer atau tujuan-tujuan lainnya. Sehubungan dengan hal itu Allah Swt. telah berfirman, “Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri (kepada-Nya).” (QS. A-Zumar, 39: 11-12).

Rasulullah Saw. bersabda, “Kebaikan itu banyak tetapi pelakunya sedikit.” (HR. Al-Khathib melalui Ibnu Umar r.a.). Amal kebaikan itu banyak ragam dan jenisnya, tetapi orang-orang yang mengerjakannya sedikit karena amal baik itu berat dirasakan oleh jiwa manusia kecuali hanya oleh orang-orang yang mendapat taufik dan hidayah dari Allah Swt. Semua amal kebaikan sama perumpamaannya dengan jamu yang pahit rasanya, tetapi jamu itu besar manfaatnya.

Semoga kita istiqomah dalam beribadah kepada-Nya walaupun amal perbuatan yang dilakukannya sedikit atau ringan tapi terus-menerus dan ikhlas. Wallahu A’lam bish-Shawabi.

Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag

  • Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
  • Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah.
  • Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.

lihat lebih banyak lagi

Suhu 48 Derajat, Jemaah Diimbau Tidak Lontar Jumroh Sebelum Pukul Empat Sore

MINA - Suhu mencapai 48 derajat celcius melanda di Mina, Arab Saudi pada hari Senin 17 Juni 2024/11 Zulhijjah 1445 H. Petugas Penyelenggara Ibadah...

Raja Doa Bersama Tokoh Washliyah Untuk Almarhum Wizdan Fauran Lubis

RAJA FANNY FATAHILLAH, SS, M.Si, putra Keetua Umum PB Al Washliyah, juga bakal calon Bupati Labuhan Batu, Sumatera Utara, bersama masyarakat, ulama, khalifah dan...

Pentingnya Pengembangan Profesionalisme Guru Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

DALAM era pendidikan modern yang dinamis dan terus berkembang, peran guru sebagai pendidik profesional menjadi semakin krusial. Guru tidak hanya bertindak sebagai penyampai informasi...

PP HIMMAH Adakan Rapat Bentuk Panitia Muktamar

JAKARTA -Pengurus Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH) menggelar rapat pembentukan Panitia Pelaksana Muktamar XI HIMMAH. Rapat tersebut dilaksanakan di Aula Lt...