DKI Jakarta

pbwashliyah@gmail.com

IndonesianArabicThaiEnglishChinese (Simplified)

Zubaidah Tamin, Pemimpin Kharismatik Perempuan Al Washliyah

AL JAM’IYATUL WASHLIYAH sebagai organisasi sosial keagamaan yang mengedepankan visi moderasi dalam beragama, berbangsa dan bernegara didirikan oleh sejumlah pelajar
Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) dan Madrasah Al-Hasaniyah di Medan, Sumatera Utara, 30 November 1930. Semua pendiri Al Washliyah adalah laki-laki, sebut saja misalnya Ismail Banda, Abdurrahman Sjihab, M. Arsjad Th. Lubis, Adnan Nur Lubis dan Yusuf Ahmad Lubis.

Akan tetapi, ini bukan berarti bahwa kaum perempuan sama sekali tidak memberikan kontribusi bagi organisasi Al Washliyah. Sederetan tokoh perempuan sebenarnya telah menghiasi sumber-sumber Kealwashliyahan. Apalagi dua organisasi bagian Al Washliyah khusus diperuntukkan bagi kaum perempuan, yakni Muslimat Al Washliyah dan Angkatan Puteri Al Washliyah (APA).

Kaum perempuan juga berkiprah dalam organisasi bagian Al Washliyah lainnya. Harus diakui bahwa penulisan tokoh perempuan Al Washliyah kurang masif dilakukan sampai saat ini. Dampaknya adalah, tidak banyak tokoh perempuan yang dikenal dengan baik oleh generasi milenial Al Washliyah saat ini.

Zubaidah Tamin adalah satu di antara banyak figur perempuan terpenting dalam organisasi Al Washliyah. Selain menjadi perempuan yang pertama sekali menjadi Ketua Pucuk Pimpinan Puteri Al Washliyah (kemudian berganti nama menjadi Muslimat Al Washliyah), ia adalah istri dari Abdurrahman Sjihab (w. 1955). Suaminya adalah tokoh penting dalam organisasi Al Washliyah sejak era kolonial sampai awal era kemerdekaan. Selain turut mendirikan Al Washliyah, Abdurrahman Sjihab juga cukup lama memimpin Al Washliyah, bahkan saat menjadi pemimpin Al Washliyah ia juga mengemban tugas sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Ketua Madjlis Sjuro DPP Partai Masjumi, dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Negara Republik Indonesia (NRI).

Kesuksesan karir politik ini tentu tidak lepas dari doa dan dukungan maksimal dari sang istri, Zubaidah Tamin yang juga merupakan figur kharismatik dalam organisasi Muslimat Al Washliyah.

Sesuai tertera pada batu nisannya, Zubaidah Tamin lahir pada tanggal 18 Mei 1923. Ia adalah anak ketiga dari pasangan Muhammad Tamin Rangkuti dan Chadijah Matondang. Ayahnya berprofesi sebagai seorang mantri dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Ia memiliki tujuh saudara kandung, yakni Amir Husein Tamin, Mahmud Tamin, Amiruddin Tamin, Maimunah Tamin, Nurhayati Tamin, Rohana Tamin dan Lailiah Tamin. Dua orang adik perempuannya, Maimunah Tamin dan Nurhayati Tamin termasuk aktif sebagai pemimpin organisasi perempuan Al Washliyah.

Tidak ada informasi mengenai di mana Zubaidah Tamin pernah belajar, meskipun diketahui bahwa ia kemudian berprofesi sebagai guru agama. Ia menikah dengan Abdurrahman Sjihab dan memiliki lima orang anak, yakni Zakiah Husna, Sukainah Rusda, M. Hatta Irfan, Asmawita dan Irham Rahman. Sebelum menikah, ia sempat menjadi guru agama di Madrasah Ibtidaiyah Al Washliyah di Medan. Abdurrahman Sjihab mulanya menikah dengan Hj. Faridah dan memiliki delapan orang anak. Istrinya ini kemudian meninggal dunia pada tanggal 8 Maret 1944.

Atas nasihat M. Arsjad Th. Lubis dan Udin Sjamsuddin, Abdurrahman Sjihab memutuskan untuk kembali menikah, dan akhirnya ia menikahi Zubaidah Tamin yang saat itu berprofesi sebagai guru agama di madrasah yang dikelola Al Washliyah. Setelah menikah, ia mendampingi suaminya terutama saat bertugas sebagai anggota parlemen di Jakarta, selain juga aktif dalam mengembangkan organisasi Puteri Al Washliyah.

Zubaidah Tamin termasuk pemimpin pertama organisasi perempuan Al Washliyah. Pada tahun 1937, ia diamanahkan sebagai Ketua I Afdeeling Puteri Al Jam’iyatul Washliyah Cabang Medan. Di antara pengurus lainnya adalah Normah, Zuraidah, Nurkijah, dan Zakijah Sjihab.

Empat tahun kemudian, Al Washliyah meresmikan Pucuk Pimpinan Puteri Al Washliyah pada Kongres Al Washliyah ke-III yang diadakan pada tanggal 9-15 Januari 1941 di Medan. Dalam kongres ini, Zubaidah Tamin diamanahkan sebagai Ketua I (Ketua Umum) Pucuk Pimpinan Puteri Al Washliyah. Sejak itu, ia mendedikasikan dirinya untuk mengembangkan organisasi perempuan Al Washliyah, tidak saja di Keresidenan Sumatera Timur, tetapi juga di Keresidenan Tapanuli, Aceh, dan Riau, bahkan kemudian sampai ke pulau Jawa, sejak era penjajahan sampai era kemerdekaan. Ia cukup lama mengemban amanah sebagai pemimpin Puteri/Muslimat Al Washliyah. Bahkan setelah suaminya wafat pada tahun 1955, ia tetap aktif berorganisasi demi memberdayakan perempuan Indonesia.

Tercatat bahwa dari Kongres Al Washliyah ke-III (1941) sampai Kongres Al Washliyah ke-XVI (20-24 Februari 1986), ia selalu terpilih menjadi Ketua Puteri/Muslimat Al Washliyah, kecuali dalam Kongres Al Washliyah ke-VIII, XII, dan XV. Tentu saja, kontribusinya dalam memberdayakan potensi kaum perempuan patut diapresiasi dan tidak bisa diabaikan.

Setelah suaminya wafat, Zubaidah Tamin tidak pernah menikah lagi, dan memfokuskan diri untuk mendidik anak-anak mereka sampai dewasa. Selain itu, ia juga meneruskan profesinya sebagai guru agama, terutama di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Medan, dan kemudian di PGA Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Seperti sang suami, ia juga berpolitik dimana ia berafiliasi ke Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia juga pernah menjadi calon anggota DPR Republik Indonesia dari PPP pada tahun 1977.

Setelah suaminya wafat, ia diminta oleh Pengurus Besar Al Washliyah untuk tinggal di sebuah rumah dalam komplek Universitas Al Washliyah (UNIVA) di Medan. Ia wafat di Padangsidimpuan, 20 Januari 1996, setelah beberapa saat tiba di rumah salah seorang puterinya. Jenazahnya kemudian dibawa ke Kota Medan dan disalatkan oleh kaum Muslim khususnya warga Al Washliyah di Masjid UNIVA, Medan, Sumatera Utara. Ia dimakamkan di tanah pekuburan Muslim Kelurahan Harjosari I/II di Medan, letaknya tidak jauh dari kampus UNIVA Medan.

Sesungguhnya, Al Washliyah punya banyak tokoh perempuan. Hanya saja, biografi mereka tidak terekam dengan baik selama ini. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya Al Washliyah sudah memiliki kepedulian terhadap pengembangan potensi kaum perempuan di Indonesia sejak era kolonial, terbukti misalnya dari keberadaan organisasi perempuan Al Washliyah. Ini tidak lain karena Al Washliyah adalah organisasi moderat yang hendak memajukan, mementingkan dan menambah tersiarnya agama Islam yang rahmatan li al-‘âlamîn.

Dalam konteks ini, kampus-kampus Al Washliyah di Indonesia sebagai perguruan tinggi yang di antaranya wajib menyelenggarakan kegiatan penelitian perlu mengadakan atau mendukung kegiatan-kegiatan riset terutama mengenai tokoh perempuan Al Washliyah yang sejauh ini kurang terekspos.

Publikasi dan bedah buku biografi tokoh perempuan Al Washliyah perlu dipertimbangkan menjadi salah satu kegiatan dalam peringatan hari ulang tahun organisasi perempuan Al Washliyah: Muslimat Al Washliyah dan Angkatan Puteri Al Washliyah (APA).

Nashrun minallâh wa fathun qarîb, wa basysyiril mu’minîn.

Dr. Ja’far, M.A.

  • Ketua Lembaga Kajian Strategis Al Washliyah Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah Periode 2021-2026
  • Dosen Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe, Aceh.

lihat lebih banyak lagi

Suhu 48 Derajat, Jemaah Diimbau Tidak Lontar Jumroh Sebelum Pukul Empat Sore

MINA - Suhu mencapai 48 derajat celcius melanda di Mina, Arab Saudi pada hari Senin 17 Juni 2024/11 Zulhijjah 1445 H. Petugas Penyelenggara Ibadah...

Raja Doa Bersama Tokoh Washliyah Untuk Almarhum Wizdan Fauran Lubis

RAJA FANNY FATAHILLAH, SS, M.Si, putra Keetua Umum PB Al Washliyah, juga bakal calon Bupati Labuhan Batu, Sumatera Utara, bersama masyarakat, ulama, khalifah dan...

Pentingnya Pengembangan Profesionalisme Guru Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

DALAM era pendidikan modern yang dinamis dan terus berkembang, peran guru sebagai pendidik profesional menjadi semakin krusial. Guru tidak hanya bertindak sebagai penyampai informasi...

PP HIMMAH Adakan Rapat Bentuk Panitia Muktamar

JAKARTA -Pengurus Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH) menggelar rapat pembentukan Panitia Pelaksana Muktamar XI HIMMAH. Rapat tersebut dilaksanakan di Aula Lt...