DKI Jakarta

pbwashliyah@gmail.com

IndonesianArabicThaiEnglishChinese (Simplified)

Catatan Aswan Nasution Terhadap Buku Deliar Noer, Pengagum Ulama Washliyah

Prof.Dr. Deliar Noer, MA, (tokoh) putra Minang, kelahiran Medan 9 Februari 1926, bertepatan dengan 27 Rajab 1344 H. Dieliar Noer meninggal dunia tanggal 17 Juni 2008 di Jakarta.

Deliar Noer, dikenal sebagai Cendikiawan yang berani bicara terus terang apa adanya. Seorang pakar ilmu politik yang produktif menulis.

Pendapat dan tulisannya bernas dan cerdas, bahkan terkesan keras. Tipe seorang Cendekiawan yang berterus terang dan kritis. (Ensiklopedia, 14 Mar 2019, Jakarta).

Tulisan ini, dikutip dari buku Otobiografi Deliar Noer (Agustus 1996) dengan judul “Aku Bagian Ummat, Aku Bagian Bangsa”.

Prof.Dr. Deliar Noer mengenal Al-Jam’iyatul Washliyah

Dr. Deliar Noer mengatakan, berawal mengenal Al-Washliyah dalam sejarah kelahirannya pada tahun 1930-an dan pada ketika itu Al-Washliyah sudah mulai bergerak pula.

Perkumpulan ini lebih banyak mengelola pendidikan yang diselenggarakannya terbatas bidang agama. Berbeda dari Muhammadiyah yang tidak bermazhab, Al-Washliyah memegang teguh mazhab Syafi’i, ungkapnya.

Namun dalam menghadapi segi-segi kehidupan dunia, ia tampak fleksibel, dan oleh sebab itu cepat memperlihatkan ciri-ciri moderen dalam tubuhnya.

Deliar Noer mengatakan dalam karyanya itu, “Organisasi ini juga aktif dalam menyelenggarakan rumah yatim piatu. Menjelang akhir tahun 1930-an ratusan anak yatim yang dipeliharanya di berbagai tempat, yang terbesar adalah di Pulau Berayan, Medan, Sumatera Utara.

Deliar berkisah, ketika aku duduk di kelas 6 atau 7 HIS, dalam suatu rapat Washliyah di Tebingtinggi, aku lihat sejumlah anak yatim yang mereka pelihara `dipertontonkan”, masing-masing dengan pakaian santri: maksudku pakai sarung dan kemeja biasa, serta berkupiah.

Mereka beberapa kali menyanyi beriba-iba dengan bait-bait kata, Orang-orang memang tergugah, banyak yang merasa sedih. Ibuku yang hadir turut melelehkan air mata. (Kenang Deliar).

Masa Pergolakan dan Pergerakan Dalam Perjuangan

Seiring dengan perjalanan waktu, Deliar Noer yang sebagai seorang pergerakan dalam perjuangan di kala itu berkata,” Di Medan aku memerlukan mengunjungi berberapa orang yang kuanggap penting untuk mendapatkan beberapa keterangan tentang perkembangan Islam.

Oleh sebab itu aku pergi mengunjungi beberapa orang pengurus Al-Jam’iyatul Washliyah, terutama pak Udin Sjamsuddin dan Udtadz M. Arsyad Lubis, pengurus Al-Ittihadiyah, dan beberapa tokoh daerah, seperti Mangaraja Ihutan, yang di zaman Belanda sangat aktif di pers.

Demikian pula, Harun Amin yang jauh lebih muda dari mereka yang kusebut tadi, Syekh Mahmud Khayyat, Imam di mesjid Gang Bengkok, dan tentu saja Pak Das, M. Dasuki, yang di zaman Belanda menjadi mentor-mentor pemuda-pemuda Islam.

Udin Sjamsuddin dan Mangaraja Ihutan banyak berbicara tentang masa Belanda dan masa sesudah merdeka, termasuk almarhum H. A. Rahman Syihab, ketua umum Al-Washliyah sejak ia berdiri, banyak kutimba ilmu dan pengalaman, pendapat dan pemikiran dari mereka,” tulis Deliar Noer.

Para tokoh-tokoh itu, sebagai orang yang masih aktif dalam pergerakan-ketika itu mereka aktif di Masjumi-mereka juga menceritakan kepadaku masa-masa revolusi dan sesudahnya.”

Prof.Dr. Deliar Noer, Mengagumi dan Kesan-kesannya terhadap Tokoh-tokoh Al-Washliyah

Secara khusus dan tulus, dalam karya Deliar, mengungkapkan, “Ustadz Arsyad Lubis dan Syeikh Khayyat adalah orang-orang alim yang pengetahuannya tentang agama sangat dalam.

Ustadz Arsyad juga menyinggung masalah politik dalam hubungan dalam Islam. Seperti, ia sangat setuju dengan pergolakan di daerah ketika itu, malah pada umumnya orang-orang yang kujumpai itu mendukung pergolakan ini.”

Menurut Deliar, Ustadz Arsyad Lubis bila mencari penyelesaian pertikaian daerah adalah dengan jalan “islah” (damai), sedangkan orang di pusat menempuh dengan jalan kekerasan.

Akhirnya, Ustadz Arsyad Lubis menulis sebuah buku kecil tentang masalah penyelesaian ini secara umum dalam Islam, tetapi buku ini kabarnya dilarang beredar, jelas Deliar.

(Catatan, penulis tidak mendapatkan keterangan dalam karya Deliar ini, tentang apa judul dan isi dari buku dimaksud).

Begitulah kesan-kesan dan kekagumuan seorang Dalier Noer, terhadap para Ulama Al-Jam’iyatul Washliyah yang Kharismatik, Panutan, dan Tawadhu’.

Oleh karenanya, para kader-kader Al-Washliyah kiranya dapat meng-inspirasi dan menauladani perjuangan, pergerakan apa yang telah dilakukan para Ulama-ulama di masa lalu.

Karena organisasi Al-Washliyah yang kita cintai dan banggakan bersama ini adalah merupakan warisan para Ulama, tiada Al-Washliyah tanpa ada Ulama.

Dan para kader-kader Al-Washliyah sudah saatnya bergerak cepat mengikuti kondisi perkembangan zaman untuk mewujudkan dan menumbuh kembangkan Al-Washliyah di seluruh wilayah Nusantara ini.

Nashrumminallahi wa fathun qariib wabasysyiril mu’minin.

Wallahu a’lam bish shawab.
Wassalam.

Aswan Nasution

*Penulis adalah Alumni 79′ Al-Qismul ‘Aly Al-Washliyah, Isma’iliyah, Medan, Sumatera Utara.
*Pengurus Wilayah Al-Washliyah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Priode 2019-2024.

lihat lebih banyak lagi

BPRS Al Washliyah Medan Jual 500 ribu Saham Per Saham 10 Ribu Rupiah

MEDAN - Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Al Washliyah akan menjual saham sebanyak 500 ribu saham kepada kalangan internal dan ekternal. Penjualan saham tersebut...

Banyak yang Harus Dibenahi di Panti Asuhan Al Washliyah Pulo Brayan

MEDAN - Banyak hal yang harus dibenahi dalam Panti Asuhan Al Washliyah, termasuk dalam pembinaan terhadap anak panti. Hal ini dikemukakan Ketua Umum Pengurus...

Ketum PB Konsolidasi Dengan Pengurus Wilayah Al Washliyah Riau

PEKANBARU - Ketua Umum PB Al Washliyah, Dr.H.Masyhuril Khamis, SH,MM melakukan pertemuan konsolidasi organisasi dengan jajaran Pengurus Wilayah Al Washliyah Riau di Pekanbaru, Kamis...

Ketum PB Al Washliyah Rapat BPRS di Medan

KETUA Umum PB Al Washliyah, Dr.H.Masyhuril Khamis, SH,MM melakukan rapat dengan Komisaris Utama BPRS Al Washliyah dan semua unsur pelaksana BPRS Al Washliyah, di...