DKI Jakarta

pbwashliyah@gmail.com

IndonesianArabicThaiEnglishChinese (Simplified)

Adnan Nur Lubis (1912-1968): Ustaz Nasionalis, Pendiri Al Washliyah

ADNAN NUR LUBIS lahir di Medan pada tahun 1912. Ia adalah anak dari pasangan Muhammad Nur dan Maimunah. Ayahnya berasal dari daerah Tambangan, Kotanopan, Tapanuli Selatan (sekarang bagian dari Kabupaten Mandailing Natal). Ia merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Adik-adiknya bernama Ramlah, Amnah, Muslim dan Ibrahim. Ia disebut-sebut memiliki hubungan kekerabatan dengan Adam Malik (Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1978-1983).

Adnan Nur menikah dengan Husni Batubara (lahir 21 April 1928 dan wafat 31 Agustus 1983). Husni Batubara adalah anak dari pasangan Hamzah Batubara dan Wan Masfura. Dari pernikahannya ini, ia memiliki sebelas orang anak. Mereka adalah Adriani, Azwarni, Titin Lubis, Risna Daulatia, Ida Irawati, Roswanidar, Roswita, Alfian Nur, Adi Mei Nur, Gustiati dan Adriati Lubis. Ia pernah bekerja sebagai karyawan di Harian Waspada di Medan, Sumatera Utara.

Sebelum berkiprah di Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) dan kemudian Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Adnan Nur Lubis bersama koleganya mendirikan Al Jam’iyatul Washliyah. Sebagai alumni Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT), ia bergabung dengan perkumpulan pelajar MIT yang bertujuan “Debating Club.” Perkumpulan ini didirikan pada tahun 1928. Perkumpulan pelajar yang dipimpin oleh Abdurrahman Sjihab ini bertujuan untuk membahas masalah agama Islam dan persoalan yang dihadapi masyarakat. Dalam organisasi pelajar MIT ini, Adnan Nur menjabat sebagai anggota. Saat mereka hendak memperluas amal usaha MIT dengan mengkonversinya dari sekadar kelompok diskusi menjadi sebuah organisasi Islam, ia aktif menghadiri rapat-rapat yang diadakan. Rapat pertama diadakan di rumah Yusuf Ahmad Lubis, kemudian rapat kedua diadakan di rumah Abdurrahman Sjihab. Adnan Nur menghadiri kedua rapat tersebut untuk membahas cara mengkonversi Debating Club menjadi sebuah organisasi yang oleh Syekh Muhammad Yunus diberi nama Al Jam’iyatul Washliyah.

Setelah Al Washliyah diresmikan di Maktab Islamiyah Tapanuli di Medan pada tanggal 30 November 1930, Adnan Nur Lubis dipercaya untuk menjabat sebagai Penulis II (Wakil Sekretaris II) mendampingi M. Arsjad Th. Lubis yang menjadi Penulis I. Ismail Banda, dalam struktur pengurus pertama ini, dipercaya sebagai Ketua I (baca: Ketua Umum). Posisi Adnan Nur Lubis sebagai Penulis II tetap bertahan saat struktur pengurus Al Washliyah mengalami perubahan pada bulan Juni 1931. Kemudian, ia dipercaya sebagai Penulis I merangkap Bendahara Al Washliyah dalam rapat perubahan pengurus yang diadakan pada bulan Desember 1931.

Tidak lama menjabat sebagai Penulis I dan Bendahara Al Washliyah, Adnan Nur Lubis kemudian memutuskan untuk berpolitik dan akhirnya ia berafiliasi dengan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Ismail Banda pun berangkat ke Makkah untuk melanjutkan studinya sehingga tidak lagi aktif sebagai pengurus Al Washliyah di Medan, dan membentuk semacam pengurus Al Washliyah cabang Makkah. Karena aktif di Gerindo, Adnan Nur Lubis tidak lagi menjadi pengurus Al Washliyah, tetapi tetap membangun hubungan dengan ulama-ulama Al Washliyah misalnya Syekh Mahmud Syihabuddin.

Adnan Nur Lubis mendedikasikan dirinya dalam bidang politik dan pemerintahan. Ia dikenal sebagai politisi PNI. Sebelumnya, ia menjadi Setia Usaha Gerakan Rakyat Indonesia yang disingkat dengan Gerindo (Omar: 1999). Dalam komunitas PNI di Sumatera Utara, ia kerap disebut ustaz nasionalis.

Dalam kongres PNI di Medan, Sumatera Utara pada tahun 1951, ia dipercaya sebagai Sekretaris PNI Sumatera Utara. Posisi ketua partai dipercayakan kepada Mohammad Said. Di antara para pengurus lainnya adalah A.N.P. Situmorang, M. Kasjim, Asjro Effendi, Marzuki Lubis, Supeno, Aziz Sidik dan Amir Jusuf. Pada tahun 1952, PNI Sumatera Utara kembali mengadakan kongres dan posisi pengurus tidak mengalami perubahan (Kementerian Penerangan, 1953: 501). Adnan Nur Lubis kemudian dipercaya sebagai Wakil Ketua Panitia Pemilihan Propinsi Sumatera Utara menggantikan posisi Mohammad Said. Para panitia pemilihan tersebut antara lain adalah Mahadi (Ketua), Udin Sjamsuddin (anggota) dan M. Nuddin Lubis (anggota) (Panitia Pemilihan Indonesia, 1958: 515). Mohammad Said menjadi Ketua PNI Sumatera Utara sampai tahun 1956.

Dalam bidang pemerintahan, Adnan Nur Lubis pada awal kemerdekaan tepatnya sebelum Agresi Militer I menjabat sebagai Bupati Langkat menggantikan Tengku Amir Hamzah yang menjabat sebagai Asisten Residen (Reid, 2014: 232, 280). Ia kemudian dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua DPRD Peralihan Provinsi Sumatera Utara periode 2 Januari 1957 sampai 29 Januari 1961.

Awalnya, jabatan ini diberikan kepada Ketua PNI Sumatera Utara saat itu, yakni Mohammad Said, tetapi ia menolak menduduki jabatan tersebut dan kemudian diberikan kepada Adnan Nur Lubis yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris PNI Sumatera Utara (Bangun, 1990). Pada tahun 1959, Presiden Soekarno membentuk
Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang terdiri atas seluruh anggota DPR Gotong Royong, utusan-utusan daerah, dan wakil-wakil golongan karya. Di sinilah, Adnan Nur menjadi anggota MPRS dari utusan daerah. Ia bersama anggota MPRS lainnya dilantik oleh Presiden Soekarno di Istana Negara pada tanggal 15 September 1960 (Departemen Penerangan, 1960).

Adnan Nur Lubis dikenal sebagai politisi yang sangat jujur dan tidak pernah memanfaatkan jabatan politik yang diembannya untuk memperkaya dirinya sendiri. Sampai akhir hidup, ia giat mengisi kegiatan pengkaderan di lingkungan PNI di wilayah Sumatera Utara. Ia wafat pada tanggal 15 Januari 1968 dan dimakamkan di Tanah Wakaf Perkuburan Mandailing di Medan, Sumatera Utara.

Adnan Nur Lubis adalah ustaz nasionalis yang turut mendirikan Al Washliyah. Sikap politiknya menunjukkan bahwa ternyata tidak semua pendiri Al Washliyah berafiliasi dengan Partai Masjumi, akan tetapi ada juga yang berafiliasi dengan partai nasionalis seperti PNI. Yang perlu dicatat juga adalah bahwa sebenarnya ia sudah berpolitik jauh sebelum Partai Masjumi didirikan, dan ia tetap berada di kubu nasionalis meskipun Partai Masjumi didirikan kelak. Nashrun minallâh wa fathun qarîb, wa basysyiril mu’minîn.

Dr. Ja’far, M.A.

Ketua Lembaga Kajian Strategis Al Washliyah Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah Periode 2021-2026

lihat lebih banyak lagi

BPRS Al Washliyah Medan Jual 500 ribu Saham Per Saham 10 Ribu Rupiah

MEDAN - Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Al Washliyah akan menjual saham sebanyak 500 ribu saham kepada kalangan internal dan ekternal. Penjualan saham tersebut...

Banyak yang Harus Dibenahi di Panti Asuhan Al Washliyah Pulo Brayan

MEDAN - Banyak hal yang harus dibenahi dalam Panti Asuhan Al Washliyah, termasuk dalam pembinaan terhadap anak panti. Hal ini dikemukakan Ketua Umum Pengurus...

Ketum PB Konsolidasi Dengan Pengurus Wilayah Al Washliyah Riau

PEKANBARU - Ketua Umum PB Al Washliyah, Dr.H.Masyhuril Khamis, SH,MM melakukan pertemuan konsolidasi organisasi dengan jajaran Pengurus Wilayah Al Washliyah Riau di Pekanbaru, Kamis...

Ketum PB Al Washliyah Rapat BPRS di Medan

KETUA Umum PB Al Washliyah, Dr.H.Masyhuril Khamis, SH,MM melakukan rapat dengan Komisaris Utama BPRS Al Washliyah dan semua unsur pelaksana BPRS Al Washliyah, di...